Kemarin aku melihat




Kemarin aku melihat, 
Seorang ibu dengan 3 anak balitanya terduduk tak sengaja di hamparan tempat pejalan kaki berlalu lalang.
Mereka ribut berselisih paham tentang suatu hal.
Sepertinya si anak sulung ingin membeli sesuatu namun tak dibolehkan dan si anak menangis.
Namun si ibu tidak marah, dia hanya merayu dan bicara pelan agar tak terdengar orang yang berlalu lalang.
Walaupun sebenarnya tak perlu begitu, karena orang yang lewat bergegas lalu tak memperhatikan.
Lalu si ibu memberikan 3 lembar uang dua ribu lusuh kepada si sulung dengan tatapan yang aku tak tahu apa artinya.
Tapi aku tahu tak sedikitpun mereka mengharap belas kasihan.

Aku melihat itu di pelataran parkir pusat perbelanjaan.

Ketika semua orang sibuk mencari baju baru, sepatu trendy, tas bergaya, dan jilbab modis,
Ia masih duduk disana mencari cara agar anaknya tidak menangis lagi.

Ketika semua orang sibuk menggali tumpukan baju setengah harga beli dua gratis satu,
Ia masih duduk disana menggali isi kantongnya berharap ada uang lebih yang tersisa.

Ketika semua orang sibuk mengeluarkan kartu member, kartu debit, kartu kredit di dalam toko,
Ia masih duduk disana mengeluarhkan semua bujuk rayu kesabaran yang ia punya untuk anaknya.

Ketika semua orang mengeluh akan baju keren yang diinginkan harganya selangit walaupun katanya sudah ada potongan harga,
Ia masih duduk disana tak mengeluh, karena ia telah lama menghempaskan jauh semua keinginan.

Ketika semua orang bersiap menghabiskan tunjangan hari raya
Lalu apa yang ia habiskan? Karena memang sudah habis.

Kemarin aku melihat, bahwa ia adalah contoh dari golongan orang bersabar dan ikhlas dalam kesempitan.
Dan aku, adalah salah satu dari semua orang.

Bekasi, Rabu, 14 Juni 2017
Fadillah Putri Dirgahayu

Komentar

Postingan Populer