Reflect, realize and say!
Materi minggu ke 3 sungguh semakin bikin mrebes mili yaitu :
■ MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH ■
“ Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya ”
IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD
Maka, sampailah kami pada Nice Homework 3 NHW #3
Buat yang sudah menikah..
WHAT? Menulis surat cinta untuk suami. Itu PR ny kali ini. Membuat saya mengingat kenapa saya dulu memilih beliau, sang imam rumah tangga. Kenapa beliau pantas menjadi ayah dari anak-anak kami. Memikirkannya saja membuat saya terharu, ingat masa 4 tahun pacaran dulu. Ingat bahwa kami dulu masih sama-sama yang pertama bagi masing-masing. Maksudnya, Saya adalah pacar pertama beliau dan sebaliknya, beliau adalah pacar pertama saya. Kami, yang sama-sama ingin menyegerakan menikah, aaah... flashback banget!
Dulu, saya pernah menulis email (email itu surat kaan? Wkwkwk) untuk suami. Saya dulu lebih memilih curhat di email dengan suami. Tapiii itu duluuu... sebelum menikah. Sekarang, hampir tiap hari ketemu paling hanya ada pesan singkat atau chat Whatsapp. Ah, nostalgia, sekali lagi mengumpulkan serpihan keberanian menulis kata-kata cinta untuk Pak Suami. Hehhe
Isi suratnya apa? Mohon maaf sekali rahasia, suami kurang setuju untuk mempublikasikan hal-hal yang bersifat sensitif dan pribadi. Tapi, ini penggalan akhir surat saya.
Respon Pak Suami: bilang I love you :) ♡♡♡♡
******
Rifa... anak Ayah Bunda yang sedikit lagi genap 2 tahun usianya. Yang sebentar lagi Bunda sapih. Yang sebentar lagi tumbuh menjadi anak gadis kami. Anak Ayah Bunda yang insya allah sehat. Doa terbaik untukmu sayang.
Rifa... anak Ayah Bunda yang sedikit lagi genap 2 tahun usianya. Yang sebentar lagi Bunda sapih. Yang sebentar lagi tumbuh menjadi anak gadis kami. Anak Ayah Bunda yang insya allah sehat. Doa terbaik untukmu sayang.
Potensi apa yang kamu miliki? Ayah Bunda yang masih belajar ini terus mencari.
Kemarin, saat test sidik jari hasil tesnya bilang potensi Rifa begini:
● Naturalis (10.93%)
Menurut Budiasih dan Sutardi (2010:118), “kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan, dan membuat kategori terhadap apa yang dijumpai di alam maupun lingkungan”.
Thomas Amstrong (2013:7) mengatakan bahwa “kecerdasan naturalis adalah keahlian dalam mengenali dan mengklasifikasikan berbagai spesies flora dan fauna, dari sebuah lingkungan individu”.
Walaupun bunda sepertinya punya kelemahan di bidang alam dan keanekaragaman hayati, Bunda senang Rifa punya potensi di bidang ini. Karena bunda berharap Kelak Rifa menjadi pribadi yang menjaga dan mencintai lingkungan. Menjaga bumi Allah. Tugas Ayah Bunda sekarang adalah mengenalkan sebanyak mungkin tentang ciptaan Allah. Menanamkan cinta kasih kepada lingkungan dan sesama makhluk.
PR bunda Banyaak.. karena Allah Maha Pencipta.
PR bunda Banyaak.. karena Allah Maha Pencipta.
● Musikal (10.7 %)
Ini sepertinya rada nurun dari Bunda. :D
Ingat dulu sewaktu bayi Nenek Rifa nonton Shehrazat, Rifa yang masih bayi bisa bergumam menirukan intro lagunya. Entah kebetulan atau tidak.
Saat ini, Rifa tertarik lagu-lagu beserta lirik lengkapnya. Kadang, Bunda tidak memperhatikan karena Rifa tidak langsung menirukan. Tapi rupanya, Rifa menyimak. Ketika bunda salah lirik, Rifa langsung bilang "Bukaaaan" :D
Bahkan, Rifa pernah bertanya ke Mbah "Mbah, ukun slam da apa" (Mbah, rukun islam ada berapa? - nyanyian yang sering bunda nyanyikan- Rifa minta Mbah bernyanyi).
Spontan bunda sadar, jika memang Rifa tertarik dengan melodi dan alunan suara, maka Bunda harus memperdangarkan suara yang indah, bermakna, berguna, dan menfaat. Seperti murotal, solawat, lagu-lagu islami dan pendidikan.
● Spasial (10.7%)
Menurut pembicara seminar tempo hari, Spasial memiliki kemampuan visual dan imajinasi yang cukup tinggi. Mereka harus diarahkan secara tepat dan terarah sehingga tidak mencari hal - hal ke arah yang salah.
Bunda sadar, teknologi sekarang sudah sangat canggih. Ayah bunda harus lebih selektif lagi dalam pengawasan teknologi anak-anak. Bukan melarang, tapi mengawasi dan memberi pengertian batasan apa yang boleh dan tidak.
Selain 3 hal dominan multiple intelegences diatas, ada skill lain yang harus bunda gali lagi dalam diri Rifa, yaitu:
Logika (9.77%)
Interpersonal (9.77%)
Body kinestetik (9.07%)
Linguistik (8.84%)
Intrapersonal (7.91%)
Interpersonal (9.77%)
Body kinestetik (9.07%)
Linguistik (8.84%)
Intrapersonal (7.91%)
PR buat Ayah dan Bunda untuk mengembangkan dirimu dengan semua potensimu nak. Karena kamu titipan Allah. Jadi apapun Rifa kelak ketika dewasa. Jadilah pribadi taat dan solehah. Sehingga pekerjaan apapun yang kamu jalani, kamu lakukan dengan penuh tanggung jawab kepada Allah, dan kepada sesama manusia.
Juga, Ayah Bunda berharap, jadi apapun Rifa nanti, bahagialah. Karena dengan bahagia, kamu akan ringan menjalani apapun.
*****
LALU, Apa Potensi Diri saya?
Self reflecting. Berkaca. Merenung. Saya ini bisa apa? Punya kelebihan apa?
Saya yakin setiap orang dianugerahi potensi dan keistimewaan. Namun, ada orang yang menyadarinya dan yang belum menyadari semua potensinya, atau belum sama sekali.
Saya dibesarkan menjadi anak sulung dengan 4 adik. Ayah dan Ibu bekerja. Saya sering diberikan tanggung jawab , dan mengambil keputusan. Maka, saya rasa saya punya potensi untuk merencanakan, mengerjakan, dan mengambil keputusan untuk segala sesuatu yang saya kerjakan.
Saya bukan orang yang terlahir dengan IQ tinggi. Namun, alhamdulillah saya tetap berprestasi. Ketika teman-teman saya bisa menghafal dalam 5 menit saya perlu 10 menit. Ketika teman saya bisa mengerti soal 1 detik maka saya perlu menelaah 5 detik. Tapi, dengan ketekunan, semua bisa. Maka itulah potensi saya. There is a will there is a way. Yang saya perlukan adalah niat dan kesungguhan :).
Nah itu PRnya!
****
Lalu apa peran saya dan keluarga dalam lingkungan saat ini?
Saya, suami dan Rifa masih tinggal bersama dengan orangtua saya dan adik-adik. Di sebuah rumah lingkungan komplek yang baru 3 tahun. Sejak dulu, baik di komplek lama (yang saya tinggali sejak sebelum TK sampai menjelang saya menikah) hingga di komplek baru kami akui bukan keluarga yang sosialis dengan warga komplek. Namun juga bukan antisosial. Mungkin karena kebiasaan.
Orang tua yang setiap hari bekerja, dan kami dititipkan pada pengasuh dengan wanti-wanti jangan keluar kalau tidak perlu, tanpa pengawasan, dan boleh hanya di jam tertentu. Karena bagi orang tua keamanan kami nomer satu.
Tentunya itu terbawa sampai saat ini.
Di komplek lama dulu saya masih 'terkenal' sedikit ikut kegiatan ini itu. Sekarang disini, dari nol lagi.
Namun, karena saya sudah berkeluarga, saya harus bersosialisasi. Beberapa waktu lalu saya mulai mengikuti kegiatan ibu-ibu komplek seperti senam pagi, tujuh belas agustusan, buka puasa bersama, dll juga ikut grup Whatsapp. Tidak terlalu menonjol (karena saya masih minder sebagai anggota termuda - saya mewakili ibu saya yang tidak sempat mengikuti kegiatan komplek karena pekerjaan). Namun inilah tantangan.
Saya belajar dari ibu-ibu disini bagaimana sebuah sistem berjalan. Saya belajar mengamati dan mengambil contoh dari lingkungan. Itulah saat ini peran saya, sebagai pengamat dam pembelajar.
Suatu hari, di lingkungan ini ataupun lingkungan lain. Saya ingin menjadi lebih bermanfaat. Aamiin.
Sabtu 3 Juni 2017.
Fadillah Putri




Komentar
Posting Komentar