Pengalaman jadi ibu..
"Maklum, saya ibu baru, newmom, belum ada pengalaman"
Dulu saya seringkali mengucapkan kata itu, ketika bertanya pada sebuah komunitas atau teman yang lebih dulu mempunyai anak satu, dua, tiga atau bahkan lebih.
Dulu saya seringkali mengucapkan kata itu, ketika bertanya pada sebuah komunitas atau teman yang lebih dulu mempunyai anak satu, dua, tiga atau bahkan lebih.
Kemudian, ketika Rifa semakin besar, gantian teman-teman yang baru hamil atau baru melahirkan meminta pendapat saya mengenai masalahnya.
Tanpa sadar, membagi pengalaman seringkali menjurus kepada mendikte seseorang.
Dulu saya begini, kamu juga bisa.
Kasih ini juga gapapa dulu anak saya begini.
Saya anak banyak urus sendiri, kamu satu aja bisa dong..
Kasih ini juga gapapa dulu anak saya begini.
Saya anak banyak urus sendiri, kamu satu aja bisa dong..
Duh, saya sering mengingatkan diri sendiri untuk tidak keluar dari batasan berbagi ilmu menjadi sok tahu.
Maafkan kalau saya seringkali lupa dan khilaf terkesan sotoy...Jika ada hati yang terluka..saya gak sengaja.. Mumpung belum bulan puasa.. #eaaa#suer
:)
:*
Kemudian, saya sering bertanya, adakah ibu berpengalaman sebelumnya? Tentu tidak. Setiap ibu baru tidak berpengalaman. Mungkin punya pengalaman jadi pengasuh, guru, psikolog, dokter anak, bidan, dll yang berhubungan dengan dunia anak. Tapi, menjadi ibu berbeda dari profesi manapun di dunia. Terlepas dari apa profesi sang ibu.
Lalu apakah ibu yang lebih dulu melahirkan, punya anak lebih dari satu, dua, tiga dan seterusnya atau bahkan sudah punya cucu dijamin lebih berpengalaman dibanding yang belum dikaruniai momongan? Bisa ya, bisa juga tidak.
Pengalaman apa dulu?
Banyak juga yang belum mempunyai momongan atau bahkan belum menikah jauh terlihat lebih dewasa dalam pengasuhan dibanding yang sudah jadi orang tua betulan.
Karena setiap anak unik, berbeda satu sama lain. Lahir dari dua insan yang berbeda, genetiknya berbeda, lingkungannya berbeda. Muka nya aja beda! Tul gak? Jadi perlakuan nya pun mungkin berbeda... bisa juga sih sama terus berhasil, tapi belum tentu kan?
Kemudian, karena zaman, teknologi, ilmu pengetahuan pun berubah dan berkembang.
Ketika pluto bukan lagi sebuah planet di galaksi bima sakti, maka kita tidak bisa lagi memaksa memasukkannya dalam hafalan anak dengan dalih "Dulu zaman mama sekolah begitu... " karena ilmu pengetahuan berkembang. Emak bapaknya kudu updet.
Ketika anak bayi yang belum genap 6 bulan tidak boleh dicekoki air putih, nasi, pisang, bubur susu, atau apapun selain ASI, maka ada pula orang berkata "Anak saya 5 juga dulu begitu, gapapa, jangan terlalu percaya omongan dokter". Padahal dokter sudah meneliti dampaknya dengan seksama dan hati-hati dalam waktu yang lama. Dan mereka yang bilang jangan percaya dokter pengen anaknya suatu hari jadi dokter. Banyak juga yang begini, Ya gak?
Anak pertama berbeda dengan anak kedua, anak kedua mirip sedikit dengan anak ketiga, anak keempat gabungan antara anak ketiga dan pertama namun lebih aktif, anak keempat beda sama kakak kakaknya. Belum lagi makanan kesukaannya gak sama.
Karena tiap anak unik, berbeda.
Lalu, pengalaman mana yang statusnya mesti disamakan?
Belajar dari orang lain itu perlu, ada kritik karena kekeliruan wajar, menerima saran dengan baik itu harus, namun tak bisa dijadikan patokan. Karena pasti ada bedanya kan?
Bukan, ini bukan pembenaran untuk tidak menerima masukan orang lain dari yang lebih tua, ibu senior atau ahli.
Cuma kadang saya sedih melihat seorang ibu baru yang jiper duluan karena saran dari yang katanya lebih duluan berpengalaman, padahal sarannya belum tentu benar. Dan akhirnya sang ibu melipir di pojokan nangis sendirian mengutuk diri, merasa gak becus dan gak berpengalaman. Depresi.
Sedih ketika ada teman beranak satu memberi saran ke ibu beranak tiga untuk membawa anaknya yang sakit ke dokter spesialis supaya dapat penanganan yang tepat terus malah diomelin "Emang anak kamu berapa sih? Sok tahu banget". T.T
Sedih ketika seorang ibu membiarkan anaknya diberi MPASI dini oleh sang nenek padahal si ibu tau resiko MPASI dini karena sang nenek kekeuh orang dulu gapapa kok.
Semoga kita semua jadi ibu pembelajar yang mencari pengalaman uniknya masing-masing dengan semangat.
Bekasi, 3 Mei 2017
Fadillah Putri Dirgahayu
Emaknya 1 orang anak Rifa yang masih juga belom berpengalaman.
Fadillah Putri Dirgahayu
Emaknya 1 orang anak Rifa yang masih juga belom berpengalaman.



Komentar
Posting Komentar