Bom waktu itu bernama...


Pagi ini melihat CNN News, seorang bocah 4 tahun dianiaya oleh beberapa orang petugas kebersihan sebuah mall di Tambora, Jakarta.

Bocah tersebut dianiaya sampai luka-luka dan patah tulang tangannya. Ditemukan di tangga darurat. Hati mencelos melirik Rifa yang sedang bermain disana. Sedih dan marah.

Siapa pula yang tidak berkomentar : Kok Bisa? Kok Tega? Kok Sampai hati? Gak punya nurani!

Konon kabarnya, karena bocah tersebut seringkali berulah mengotori lantai yang telah dibersihkan (baca disini : detik news). Kemudian dalam narasi berita selanjutnya, disampaikan  bahwa salah satu pelaku nya masih dibawah umur.

Sekilas saya nyeletuk di depan Bapak saya yang sedang sarapan.

"Kok tega ya yah? Tapi, mungkin dia juga diperlakukan kasar oleh lingkungannya, dulu mungkin mereka dikasarin."

"Bisa jadi, lingkungan kumuh juga" jawab beliau.

Memoripun terlempar ke sebuah materi diskusi Whatsapp beberapa waktu lalu membahas tentang : Innerchild.

Banyak pembahasan psikologis mengenai apa itu innerchild. Dikutip dari berbagai sumber, innerchild adalah memori dan emosi masa lalu (masa kecil) yang terpendam namun terbawa hingga dewasa sehingga ingatan dan emosi (ego personality) terus berada di dalam diri kita.

Bisa dalam berbagai kondisi : baik, buruk, traumatis, masalah, dan lainnya.

Subhnallah, Allah SWT mengaruniakan otak yang luar biasa. Terdiri dari jutaan laci memori yang menyimpan segala ingatan semasa hidup.

Kemudian saya berkaca,
Kadang saya terbawa emosi dimana saya memperlakukan orang lain sebagaimana orang lain memperlakukan saya dulu, sewaktu kecil. Kadang banyak rasa sedih dan frustasi yang tak tersampaikan dari dulu kemudian meledak dalam satu waktu. 

Seperti bom! Korbannya? Bisa siapa saja,  anak.

Lalu, pikiran pun melompat lagi. Apakah para petugas kebersihan tersebut tega menganiaya bocah berusia 4 tahun karena mereka mempunyai pengalaman masa lalu yang kurang lebih sama? Sama menyedihkan dan sama menyakitkan. Siapakah yang harus bertanggung jawab? Wallahualam.

Tanpa mengurangi rasa simpatik pada korban, saya pun bersedih untuk mereka, para pelaku. Yang kehilangan nurani, rasa tega dan hati kepada seorang bocah karena tersulut emosi.

Sepertinya saya kudu banyak belajar lagi, mengevaluasi innerchild diri, dan memutusnya sampai disini. Supaya anak saya gak mengalami nanti.
Berdamai, yap saya harus berdamai diri sendiri.

Supaya tidak menyimpan bom waktu dan duaar!! Menyakiti orang lain juga diri sendiri.


17 Mei 2017
Emaknya Rifa
Yang pikirannya masih suka lompat-lompat

Komentar

Postingan Populer