Tangkal Kelam Di Media Sosial

Tangkal Kelam di Media Sosial
~CNN INDONESIA 19 maret 2017 malam ~


Narasumber yang diwawancara:
Sobary ~ budayawan
Reza Indragiri ~ Master Psikologi Forensik
*****
Entah kenapa judul ini gak terlalu bikin saya melirik pada awalnya, tapi justru pembahasan di dalamnya sangat menarik , informatif dan komprehensif, sayang gak bikin resume dari awal. Jadi diceritain aja ya pakai bahasa sendiri plus tambahan dari saya yang gremet2 dengerinnya.
Berangkat dari 2 kejadian berturut-turut di media sosial yang membuat kita geram, nangis, marah, ketakutan, sampai istighfar yaitu kejahatan seksual pedofilia (anak) dan Bunuh Diri Live di Facebook, sehingga sangat menyita perhatian publik, terutama pengguna aktif media sosial seperti kita.
*****
-Penggunaam negatif media sosial~
Saat ini, Ada 4 kejahatan besar yang memanfaatkan media sosial:
1. Cyber sex.
Melakukan kejahatan dengam motif vulgarism, sex, kelainan sex, dsb, contohnya pedofilia yang baru terjadi.
2. Cyber murder
Ini sebenernya ngenes, gak berani liat sama sekali walaupun dah di share. Di Indonesia, kasus pembunuhan kaya gini (bunuh diri sendiri) adalah yang baru pertama kali terjadi. Tapi di Barat, sudah sering terjadi, bukan cuma bunuh diri tapi bunuh orang lain juga :'(.
3. Cyber bully
Mang ada? Ada.. contohnya yang masih terjadi adalah menghina, menjatuhkan, mengejek, orang yang tidak sepaham SAAT PILKADA.
*Ini sebenernya banyak sih ditemuin bukan cuma pilkada doang, seringnya liat di dunia keartisan, artis turun berat badan dihina oplas, artis dapet award antifans bilang gak kredibel, artis nikah sama yang beda umur dinyinyir cari harta, artis sulam alis ribut gak ketulungan.
Di dunia emak2? Ada jugaaak.. sadar gak sadar cyber bully ini sering dilakukan dan berseliweran depan mata.
4. Cyber terorism
Nah ini serem, kalo dulu yang namanya teroris kudu di brainwash dengan tatap muka 24 jam sehari sampai terpengaruh, makanya suka ngilang lama tak kunjung kembali, dateng-dateng berubah sikap.
Sekarang gak perlu lagi ninggalin rumah, cukup berkutat depan media sosial bisa juga terpengaruh, dan ikut aksi teror. Bahkan ilmu neror nya bisa di cari di internet tinggal masukin keyword: Cara Merakit Bom. T.T
*****
~Cyber Sex yang marak terjadi belakangan ini di Indonesia~
Menurut Reza, aksi cyber sex seperti halnya kasus pedofilia, bukan semata-mata karena faktor psikologis (kelainan si pelaku) tapi ada faktor bisnis yang berskala internasional terlibat, sindikat yang menjual kebutuhan sex. Dan targetnya adalah "lone fox" yang mengakses media sosial.
Sedangkan menurut Sobary, dalam kasus seperti ini pelaku dan korban punya latar gangguang sosial yaitu Gangguan jiwa dan ketegangan yang tidak terakomodir sehingga diluapkan di media sosial.
*****
~Kenapa anak-anak? Dan peran keluarga~
Karena anak mudah direkayasa dan dimanipulasi. Anak dianggap paling rentan untuk dijadikan korban secara fisik, mental dan sosial dengan memanfaatkan media sosial sebagai instrumen kejahatan yang murah dengan akses yang luas, apalagi Indonesia masuk 5 besar pengguna sosial terbanyak di dunia.
Menurut Reza, anak di zaman sekarang tidak lagi dekat dengan orang tua ataupun anggota keluarga lainnya. So, Siapa teman yg paling akrab dengan anak dan remaja saat ini?
Gadget. Dilengkapi dengan akses media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram dll. Dan celakanya, tidak semua akun media sosial menggunakan identitas asli, namun tetap bisa terkoneksi dan berkomunikasi.
Menurut Sobary, Keluarga adalah suatu lembaga paling terpercaya yang seharusnya memiliki prngaruh pada anak. Keluarga yang kuat seharusnya adalah tempat yang paling aman, nyaman, penuh dengan cinta dan segalanya. Sedangkan keluarga yang lemah tidak akan mampu bersaing dengan perubahan tatanan sosial yang terjadi.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh keluarga? Menanamkan moralitas.
Moralitas yang harus tertanam bahwa : saya tidak bisa dan tidak boleh percaya selain keluarga. Dengan cara demikain diharapkan anak tdk mudah dipengaruhi oleh efek jahat media sosial.
*****
~Pengaruh teman~
Teman adalah sosok yang penting bagi seorang anak. Anak seringkali takut kehilangan teman dibandingkan dengan kehilangan keluarga.
Pengaruh teman sebaya kuat bs menggeser guru, saudara, bahkan Orang Tua sendiri. Oleh sebab itu, anak sulit untuk mengatakan TIDAK kepada temannya agar temannya senang dan tidak meninggalkan dirinya.
Hal ini yang dimanfaatkan oleh penjahat cyber dalam menarik mangsa. Mereka akan masuk menjadi 'teman' dalam dunia maya untuk membangun interaksi (yang jahat) agar terlihat sebagai teman. Lambat laun mereka akan menggiring si anak untuk mengajaknya ke tujuan awal dengan sangat persuasif atau bahkan sedikit paksaan. Anak yang merasa bahwa orang ini 'teman', mau tidak mau akan menuruti kemauan si penjahat agar 'teman' tersebut tidak meninggalkannya
Org yg ingin membangun interaksi jahat berpura2 jadi teman, lama2 mengajak, persuasif atau sedikit paksaan sehingga anak menuruti.
*****
~Apa yang harus dilakukan?~
1. Sebenarnya sejak lahir anak mempunyai sistem pembelaan diri yang alami. Contohnya, bagaimana seorang anak menangis, malu, menyembunyikan diri ketika ada orang asing berada di dekatnya. Namun, seringkali kita sebagaiborang tua 'memaksa anak' untuk mematikan rasa alert alami nya untuk hanya sekedar bersalamam dengan orang asing. Apabila anak menolak, maka kita terburu-buru melabelinya dengan Anak Malu. Berilah anak ruang untuk memutuskan sesuatu tampa judgement yang tidak mengenakkan.
*mendengar ini jadi berkaca dulu sama cara pengasuhan ke anak, kadang kita terlalu cepat melabeli anak dengan sebutan malu, penakut, dll. Padahal, mereka simple kok: gak nyaman. Dan kenapa kita memaksa ya?"
2. Biarlah anak melihat sesuatu dari sudut pandangnya.
Perlu dicatat bahwa kacamata orang tua tidak sama dengan sudut pandang anak. Ekspetasi orang tua tidak sama dengan ekspetasi anak. Jadi jangan membebani anak dengan kebahagiaan semu yang sebetulnya tidak membuat anak itu bahagia. Semata-mata hanya ingin membuat orang tua senang, bukan anaknya.
3. Bangunlah imunitas anak terhadap pengaruh media sosial.
Mambatasi anak menggunakan media sosial itu perlu, tapi yang penting dan perlu disiapkan oleh setiap orang tua membentuk imunitas untuk melindungi anak dari pengaruh negatif media sosial.
Reza menganalogikan imunitas ini sebagai vaksin. Ada 2 jenis vaksin dalam mengakses media sosial.
a. Vaksin terkait "apa itu medsos"
Orang tua perlu menggambarkan secara nyata bahwa medsos adalah bukan hanya suatu hal yang menyenangkan tapi disana juga ada ancaman dan bahaya.
b. Vaksin integitas anak
Tubuh merupakan ciptaan tuhan yang bersih dan terjaga sehingga harus dilindungi dan dijaga dengan baik. Sehingga sampaikan pada anak apabila anak diancam, harus menceritakannya kepada orang tua.
*****
~Sikap pemerintah dalam melindungi anak~
1. PERPU kebiri untuk predator anak.
Masih inget gak hebohnya perpu kebiri taun kemarin? Banyak yang Pro dan Juga Kontra (Jujur, saya termasuk yang kontra). PERPU itu udah disahkan ternyata! Ealah kudet yak..
Menurut Reza indragiri ada 3 persoalan utama yang membayangi PERPU ini:
1. Asumsi keilmuan yang tidak memadai
Menurut Reza (dan saya stuju banget) bahwa gak semua kasus predator anak itu bermasalah dengan fungsi seksualnya (alat kelamin) yang tidak bisa menahan hawa nafsu, tapi justru kebanhakan bermasalah di Otak/psikologisnya.
Jadi apabila demikian, mematikan fungsi seksual pelaku dengan hukuman kebiri tidak memberikan efek. Justru mengkhawatirkan karena bisa saja pelaku malah 'dendam' dengan hukuman tersebut.
2. Belum ada ketentuan teknisnya.
Masih ingat bahwa IDAI menolak kebijakan kebiri? Laaah terus siapa yang menyuntikkan untuk mengebiri? Katanya supaya pelaku bisa dipantau mau dipasang chip di badannya. Tapi belum ada ketentuan mau dipasang dimana chip tersebut.
3. Sulit diungkap.
Biasanya, kasus kekerasan seksual pada anak dilaporkan terlambat sehingga proses hukumnya menjadi sangat sulit, barang bukti hilang atau pelaku sudah kabur.
2. Inpres Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Presiden.
Menurut inpres tersebut, basis penciptaan lingkungan ramah anak mencakup dua faktor:
1. Rumah
2. Sekolah
Yang sebenarnya basis tersebut terkonsep dengan baik dan ideal. Namun, yang menjadi kebingungan dan dirasa kurang tepat adalah karena instruksi ini berada dibawah pengawasan MENKOPOLHUKAM.
*Rada gak nyambung ya?, menurut saya mah di bawah Kemendikbud atau Kemensos atau Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan anak laah ya, ih abaikan aja saya mah cuma remahan krupuk kulit*
Sekian rangkuman dari saya, buat pribadi ini pelajaran yang menarik tentang menyikapi media sosial secara dewasa buat semua orang, pendidikan anak dan keluarga, dan memahami lingkungan. Karena kita gak bisa menghindar dari teknologi, yang bisa kita lakukan adalah belajar terus memanfaatkannya dengan positif dan bermanfaat.
Semua hal selalu ada dampak baik dan buruknya, termasuk media sosial.
20 Maret 2017

Salam berbagi sepenuh hati

Fadillah Putri Dirgahayu
Owner Dalisha Clodishop
Open discuss and corrction apabila saya ada salah meringkas atau penulisan,mohon maklum meringkasnya sambil liatin bocah main :)
*Say YES to Share and Say NO to Copy Paste.*

Komentar

Postingan Populer