Kebablasan


-Kebablasan-

Aktif di social media seperti Facebook, Instagram dan Twitter juga blog buat emak-emak seperti saya adalah sebuah rutinitas. Belum lagi Path, tumblr, dll yang di skip karena keterbatasan memori hp 😅 . Social media bukan hanya tempat promosi bakulan buku saya,  tapi juga sebagai eksistensi diri, sosialisasi dan bergabung dengan komunitas yang saya sukai.

Aktif di aplikasi messenger pun menjadi sebuah keharusan untuk mengupdate informasi dan memudahkan komunikasi, kalau di hp saya cukup Whatsapp, Telegram, Line dan Fb messenger. Seringkali isu di social media pindah lapak ke messenger.

Arus informasi yang cukup besar bisa dijangkau dengan modal jempol dalam hitungan menit bahkan detik. Ada yang bikin senang, terharu, bahagia, sedih, marah, kecewa, deg-degan, penasaran, kesal, pokoknya macam-macam bisa terjadi dalam satu hari atau bahkan satu waktu. Cukup scroll aja hp nya , semua bisa!

Membubuhkan apresiasi senang melalui sekali klik dengan ikon 👍 atau ❤, atau emoticon emosi lainnya juga bisa. Sering pula kita ingin ikut berdialog dan berkomentar di sebuah kiriman. Wajar? wajar... itulah bersosial media, kalau gak mau ditanggepin bikin diary aja kali ya 😆.

Pro dan kontra terhadap suatu masalah itu biasa. Komentar bertentangan itu wajar. Namanya juga manusia, beda pendapat itu lumrah.

Namun, akhir-akhir ini saya makin gundah gulana (gak pakai membara ya 😅) ber social media. Alih-alih mengkritik dengan dasar yang kuat, atau berkomentar dengan sopan, atau minimal marah dan tegas itu biasa buat saya, tapi malah mengejek, merendahkan, menyerang pribadi, fisik, atau psikologi orang tersebut. 

Dimana..
Kemanusiaan yang adil dan beradab, ketika adab sering dilupakan kepada sesama manusia? 

Kritik itu adalah hak dan kewajiban, sebagai manusia, sebagai umat untuk saling mengingatkan, sebagai warga negara. 
Ketidaksetujuan akan sesuatu bukan berarti menabuh genderang permusuhan.
Ketidaksamaan pendapat adalah bukti keberagaman manusia yang memang diciptakan beragam oleh Tuhan.

Memberi kritik jangan sampai kebablasan berujung mengejek, menghina atau menghardik.
Memberi kritik terhadap suatu pendapat boleh namun tak sedap jika kebablasan sampai berujung menghina entah itu keyakinan, psikologi atau bahkan fisik.
Memberi kritik akan enak jika dilakukan dengan asik.

Belum tentu yang memberi kritik lebih baik, hanya kebetulan yang di kritik sedang khilaf atau lidah terselip.
Dan belum tentu yang berpendapat selalu benar karena  manusia tempatnya lupa dan salah.
Belun tentu juga yang berdapat salah, karena kebenaran mutlak hanya dimiliki oleh Sang Maha Kuasa.

Memang belum ada standar sampai mana kritik itu dikatakan disampaikan dengan baik.
Tapi, kita punya agama, norma, moral dan hati nurani untuk membuat sendiri standar itu. 

Dan pada akhirnya, tulisan ini ada karena ada broadcast ke Whatsapp messenger yang sangat makjleb mewakili perasaan saya saat ini.

"Kritiklah pendapat orang namun hormati yang mengatakannya" 
(Imam Syafi'i).

Satu kalimat yang well said banget, buat saya. 😊

Bekasi , 9 Agustus 2017
Fadillah Putri Dirgahayu
Yang masih suka mengritik dan diberi kritik karena masih suka kebablasan.
I am a human too..

Komentar

Postingan Populer