Cadel/ Cedal pada anak, jangan dibiasakan.
Cadel/ Cedal pada anak, jangan dibiasakan.
"nda, bo" --> bunda, bobo
"yah, da mbar ulel" --> ayah, ada gambar ular
"tu, kang" --> itu ikan
"yah, da mbar ulel" --> ayah, ada gambar ular
"tu, kang" --> itu ikan
Cadel atau ketidaksempurnaan dalam mengucapkan suatu kata seperti contoh diatas memang terdengar wajar terjadi pada bayi dan anak-anak karena autonomi dan artikulasi anak yang masih belum sempurna.Namun, pembiasaan terhadap cadel adalah hal yang salah.
Tapiiiii yang paling parah, plis jangan anggap itu ngegemesin atau lucu ya bu, pak, nek, kek, om, tante. Polah tingkah anak-anak memang terlalu cute buat nggak disenyumin. Tapi, kadang senyuman dan ketawa kita menjerumuskan karena anak menganggap itu bentuk apresiasi positif.
Saya ingat betul ketika ibu saya dulu melarang saya bicara cadel ke adek-adek atau anak kecil.
"Jangan, nanti kebiasaan. Contohkan yang benar".
"Jangan, nanti kebiasaan. Contohkan yang benar".
Waktu itu saya pikir Ibu galak amat, kan gak lucu jadinya, lucuan cadel, tapi itu make sense buat saya sekarang. Ketika Rifa mulai bisa berbicara, saya berusaha betul tidak ikut berbicara seperti Rifa, saya yang harus mencontohkan berbicara dengan baik dan benar. Jadi kalau ada orang yang ngomong cadel ke Rifa, emaknya gemes campur kesel T.T *emak galak*
Tugas kita sebagai orang tua adalah membetulkan kesalahan anak, bukan malah memberi apresiasi dengan ketawa dan ikutan berbicara cadel.
:D
Secara ilmiah, cadel terbagi 2:
1. Psikologis
Penyebabnya pengaruh lingkungan. Seperti contoh di atas, yaitu memberi contoh bicara cadel sehingga anak mengikuti. Juga bisa karena meniru tren usia sebaya, televisi,dll.
1. Psikologis
Penyebabnya pengaruh lingkungan. Seperti contoh di atas, yaitu memberi contoh bicara cadel sehingga anak mengikuti. Juga bisa karena meniru tren usia sebaya, televisi,dll.
2. Fisiologis
Yaitu kelainan struktur lidah dan mulut. Seperti tongu tie (tali lidah yang menempel sehingga bagian bawah mulut terlalu pendek dan membatasi pergerakan lidah). Bisa terdeteksi dari lahir, kadang mengalami gangguan menyusui juga.
atau bisa kelainan fisiologis lainnya yang harus di deteksi oleh dokter.
Yaitu kelainan struktur lidah dan mulut. Seperti tongu tie (tali lidah yang menempel sehingga bagian bawah mulut terlalu pendek dan membatasi pergerakan lidah). Bisa terdeteksi dari lahir, kadang mengalami gangguan menyusui juga.
atau bisa kelainan fisiologis lainnya yang harus di deteksi oleh dokter.
Pengaruh lain adalah:
- penggunaan dot/empeng.
Selain karena dot/empeng tidak melatih pergerakan oramotor bayi dibanding menyusui langsung, dot/ empeng juga bisa merusak struktur gigi. Itu sebabnya menyusui langsung tetap lebih baik.
:)
- penggunaan dot/empeng.
Selain karena dot/empeng tidak melatih pergerakan oramotor bayi dibanding menyusui langsung, dot/ empeng juga bisa merusak struktur gigi. Itu sebabnya menyusui langsung tetap lebih baik.
Solusinya?
1. Jangan mencontohkan bicara cadel kepada anak. inget,anak adalah peniru ulung!
2. Betulkan bila anak berbicara cadel/salah.
3. Jangan lupa memuji anak jika bisa berbicara dengan baik dan benar.
4. Ceraikan dari dot dan empeng sedini mungkin.
Kalau memang pakai dot, kenalkan dengan media lain seperti sippy cup, gelas dan sedotan sedini mungkin.
5. Kalau cadel berkelanjutan pada usia sekolah, hubungi dokter supaya mendapat penanganan yang tepat. (ini serius, karena pembully-an karena cadel itu nyata, kasian mental anak kalo minder).
1. Jangan mencontohkan bicara cadel kepada anak. inget,anak adalah peniru ulung!
2. Betulkan bila anak berbicara cadel/salah.
3. Jangan lupa memuji anak jika bisa berbicara dengan baik dan benar.
4. Ceraikan dari dot dan empeng sedini mungkin.
Kalau memang pakai dot, kenalkan dengan media lain seperti sippy cup, gelas dan sedotan sedini mungkin.
5. Kalau cadel berkelanjutan pada usia sekolah, hubungi dokter supaya mendapat penanganan yang tepat. (ini serius, karena pembully-an karena cadel itu nyata, kasian mental anak kalo minder).
So, Jangan ngomong cadel ke anak ya
:)
Semoga bermanfaat.
Bekasi, 30 Januari 2017
Fadillah Putri D
Fadillah Putri D


Komentar
Posting Komentar