Kegalauan Si Mbah



Kegalauan Si Mbah..
"Mbak, ini anakku air susunya sedikit, cucu saya minumnya banyak. Pulang kerja cuma bawa ngepas segitu-gitu aja bawa nya"
Mataku pun tertuju pada bayi yang digendong neneknya sedang pulas sambil sesekali menikmati empengnya. Disebelah nenek, berdiri lah Si Ayah. Aku bukan konselor laktasi, tapi mengedukASI selalu penting sebatas kemampuanku.
"Mbah, cucu nya kalau ditinggal Ibu kerja minumnya pakai dot?"
"Iya lah mbak, mau pakai apa lagi toh?"
"Begini mbah, dot itu menyebabkan asi berkurang"
"Loh kok bisa? Piye toh?" Sambil melirik ke ayah si bayi yang terbengong-bengong.
"Iya, begini mbah, kan dot itu bikin gampang menghisap, slereseep langsung keluar, kadang dituang aja bisa langsung tumpah. Sedangkan kalau nenen langsung si bayi harus menggunakan semua mulutnya termasuk lidahnya baru ASI keluar"
"Iya ya mbak?"
"Iya mbah, makanya bayi yang biasa pake dot lama kelamaan bingung waktu nenen langsung ke ibunya karena beda cara kerjanya. Ada yang bayinya jejeritan stres ga mau nenen. Tapi ada juga loh yang masih mau nenen tapi cuma dijilat aja atau dihisap tapi kurang pol. Makanya ASI ibu bisa berkurang karena pengeluarannya gak maksimal. Makanya menyusui langsung bagus buat otot-otot mulut dan wajah bayi (oramotor) karena semuanya bergerak. Bagus buat perkembangannya nanti. Dot gak bisa begitu"
"Saya dulu anak lima semuanya ASI mbak sampai 2 tahun malah gak mau lepas dikasi pait-pait baru kapok. ASI saya banyak"
"Dulu si mbah ngasih anaknya pakai dot apa langsung nenen?"
"Langsung mbak, kan saya di rumah gak kerja"
"Nah, itu mbah, karena menyusui langsung produksi ASI selalu terjaga, makanya anak-anak mbah semuanya sukses ASI. Saran saya, pakai media selain dot ya mbah"
"Lah terus pakai apa mbak?" Sambil menatap si ayah bayi yang makin bingung
"Banyak, ada sendok, pipet, gelas sloki, botol sendok, dll"
"Waduh, gak keselek mbak itu bayinya malah bahaya"
"Gak dong mbah, bayi itu pintar kok baru lahir bisa langsung pakai gelas sloki"
*sambil liat ke ayahnya bayi*
"Bapak bisa buka youtube? Disana banyak tutorialnya cara memberikan ASI selain pakai dot dan berhasil asal sabar"
"Bisa mbak"
"Memang susah mbah awalnya, tapi kalau mau tetep ASI ya kayak begitu"
"Saya baru tau loh mbak ga boleh pakai dot wong semua orang pakai"
*dalam hati mrebess*
"Iya mbah, trus, kalau bisa jangan pakai empeng juga dedeknya. Karena sama juga seperti dot bikin bingung puting dan ASI seret"
"Biar anteng mbak, dikasih empeng langsung diem dia"
"Betul mbah, tapi gak bagus juga buat pertumbuhan gigi nya nanti"
"Walah, iki saya baru tau loh mbak bener, makasi ya mbak, nanti biar bapak sama ibunya diomongin juga".
Berharap si mbah, ibu dan bapak si bayi bisa move on dari dot dan empeng.
Mengorbankan kebiasaan, kemudahan, dan kepraktisan demi lancarnya pengeluaran ASI, sepadankah?
Kalau saya sih yess.. gak tau kalau Mas Anang. :D
Semoga menginspirasi.
Kisah nyata dari saya,
Fadillah Putri
Bekasi, 26 Januari 2017
*Note:
Melalui cerita ini saya cuma mau menyampaikan bahwa mengedukASI itu bukan ibunya saja, tapi juga penting mengedukASI lingkungan. Setelah tau ilmunya kemudian memilih tetap memakai dot, maka pilihan tetap hakmu. Beserta risikonya :)
Tak menghakimi siapapun, hanya mengASIhi memang butuh perjuangan. Gak semudah buka kancing trus tinggal lep.

Komentar

Postingan Populer